Sabtu, 02 Februari 2013

WARTA FEBRUARI 2013


Waktu begitu cepat berjalan. Belum lama kita menyelesaikan rangkaian perayaan masa Natal, kini kita sudah mulai lagi dengan masa khusus Prapaskah. Kita menjumpai lagi arus besar alam perjalanan liturgi kita, untuk mempersiapkan puncak dari seluruh perayaan liturgi sepanjang tahun, yaitu Paskah. 


Masa Prapaskah memberi kesempatan kepada kita untuk menemukan kembali makna Baptis, membangun sikap tobat dan pembaharuan diri, serta meningkatkan semangat solidaritas. Secara khusus kita memusatkan perhatian kepada misteri hidup Yesus yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk kita. Kita menghayati misteri itu dengan memperdalam iman untuk menegaskan arah perutusan kita sebagai Saksi Kristus. Kita menghayatinya juga dengan laku tapa dalam pantang dan puasa, serta karya amal kasih dan solidaritas bagi sesama yang menderita.

Pendalaman iman dalam masa Prapaskah tahun ini secara khusus membahas tema APP 2013 “ Menghargai Kerja “. Bersama seluruh umat Katolik di Indonesia, kita mencoba untuk mewujudkan kesejahteraan hidup dengan menghargai kerja. Kerja kita sambut sebagai tugas mulia untuk memelihara alam ciptaan Tuhan. Kita ikut serta dalam karya penciptaan itu dalam kesadaran sebagai Citra Allah dan Mahkota Ciptaan. Kita pun yakin bahwa Tuhan terus berkerja di tengah kita, menjadi contoh dan sumber semangat kita dalam bekerja. Dalam perjalanan selanjutnya, kita diutus supaya dapat mewujudkan semangat Injil dalam kerja, sehingga semua orang dapat menjadi sempurna seperti Bapa yang di Surga sempurna adanya.

Selain kegiatan pantang dan puasa yang kita jalani secara pribadi dan bersama-sama dalam keluarga, selama Masa Prapaskah kita juga mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan Jalan Salib setiap Jumat Sore. Dalam devosi jalan salib, kita berusaha mengenang misteri penderitaan dan wafat Yesus untuk penebusan dosa-dosa kita. Devosi ini menjadi semakin bermakna kalau kemudian mendorong kita untuk pertobatan dan pembaharuan diri. Didukung oleh pesan-pesan Sabda yang kita peroleh dari kegiatan pendalaman iman, maka jalan salib dan pertobatan menjadi satu rangkaian yang terpadu. Tindakan amal kasih dan solidaritas dalam hal ini menjadi muara dari seluruh usaha pertobatan kita. Amal kasih dan solidaritas mengungkapkan semangat pembaharuan diri dan kepedulian kita kepada orang lain. Manusia lama kita tanggalkan dan kita kenakan manusia yang baru.  

Marilah kita sambut masa Prapaskah sebagai kesempatan untuk Retret Agung. Kita buka hati kita untuk diperbaharui oleh Allah dan kita siapkan diri kita untuk perutusan yang baru dalam semangat kerja yang berdisiplin, jujur, optimis, pantang menyerah dan semangat kerja yang mempedulikan kelestarian alam untuk menjaga keutuhan ciptaan.

 JAP.

Jumat, 30 November 2012

WARTA DESEMBER 2012


Natal kita sambut tidak hanya sebagai perayaan ritual kelahiran Yesus, tetapi juga sebagai pembaharuan cara pandang kita atas hidup dan penghayatannya. Perayaan liturgis peristiwa kelahiran itu tidak berhenti sebagai perayaan di altar, tetapi menjadi sebuah amanat untuk kita wujudkan dalam hidup sehari-hari.

Amanat yang paling mendasar adalah panggilan untuk hidup dalam sukacita dan perutusan. Kelahiran Yesus menyatakan pemulihan kembali martabat ilahi kita sebagai anak-anak Allah dan memberi kita tanggungjawab untuk mewartakannya kepada dunia. Kita diutus supaya martabat manusia dijunjung tinggi dan dihormati. Hidup yang kita jalani hendaknya menjadi kesaksian bagi sesame betapa berharganya keberadaan setiap orang di tengah semesta ini.

Selain panggilan untuk hidup dalam sukacita dan perutusan, Natal juga mengamanatkan panggilan kita untuk membangun cinta persaudaraan dengan semua orang, kepekaan terhadap situasi jaman, kesahajaan, kepedulian kepada sesama yang lemah dan miskin, serta kepedulian terhadap kelestarian alam. Natal memancarkan gema yang menyebar dan menjangkau seluruh isi semesta.

Amanat itu akan menjadi daya dorong yang menggerakkan kita apabila kita membiarkan diri dikuasai oleh kisah penjelmaan itu. Adakah sesuatu dalam diri kita yang tidak bergetar ketika mendengar kisah penjelmaan itu ? Adakah sesuatu dalam diri kita yang tidak terpana ketika mendengar bahwa Allah selalu menyertai kita ? Sambutlah Natal sebagai kelahiran baru, sebagai saat perubahan cara pandang atas hidup dan penghayatannya, karena Allah telah mengasihi kita ( 1 Yoh 4:19 ). Berkah Dalem. JAP.

Kegiatan Paroki Untuk Menyambut Natal

1.           Rekoleksi Umat

Selasa         18 Desember 2012        18.00-selesai di Gereja Paroki

2.           Sakramen Tobat

Rabu           19 Desember 2012        07.30-Selesai. SDK dan SMPK
                                                         17.00-Selesai. Pk. 18.00 Misa
Kamis         20 Desember 2012        17.00-Selesai. Pk. 18.00 Misa
Jumat         21 Desember 2012        17.00-Selesai. Pk. 18.00 Misa

3.           Sakramen Baptis Anak dan Katekumen Dewasa

Minggu       23 Desember 2012        Setelah Misa

4.           Perayaan Misa

Senin          24 Des        19.00          Misa Malam Natal
Selasa         25 Des        07.00          Misa HR Natal
Rabu           26 Des        05.30          Misa Pesta St. Stefanus
Kamis         27 Des        18.00          Misa Pesta St. Yoh. Penginjil
Jumat         28 Des        18.00          Misa Pesta Kanak-kanak Suci
Sabtu         29 Des        17.00          Misa Pesta Keluarga Kudus
Minggu       30 Des        07.00          Misa Pesta Keluarga Kudus
Senin          31 Des        18.00          Misa HR Maria Bunda Allah
                                                          Dan Tutup Tahun
Sabtu          5 Jan          17.00          HR. Epifani
Minggu       6 Jan          07.00          HR. Epifani
Sabtu          12 Jan        17.00          Pesta Pembaptisan Tuhan
Minggu       13 Jan        08.00          Pesta Pembaptisan Tuhan
                                                          Dan Misa Untuk Usila

5.           Bakti Sosial

Mg- Rabu    16-19 Des                      Packing Bingkisan
Kamis         20 Des        08.00          Distribusi Bingkisan               

6.           Gladi Resik

Sabtu          22 Des        18.30          Petugas Liturgi Malam Natal
Minggu       23 Des        09.00          Petugas Liturgi HR Natal

7.           Kerja Bakti

Minggu       23 Des        09.00          Pasang Tenda dan kebersihan
Senin         24 Des        08.00          Kursi, Sound, dan kebersihan

8.           Natal Ekumene

Rabu           26 Des        17.00          Ijen View Hotel

9.           Bazar dan JJS

Kamis         24 Jan        06.00          Pesta Pelindung Paroki

Rabu, 31 Oktober 2012

WARTA BULAN NOPEMBER 2012


Selama bulan Oktober kemarin, paroki kita disibukkan oleh kegiatan Devosi Maria dengan doa rosario dan perayaan ekaristi setiap hari di depan gua Maria. Umat yang hadir secara tetap mencapai jumlah lebih dari 80 orang setiap harinya. Selain itu, Dewan Pastoral Paroki mulai tanggal 8-12 Oktober.juga telah melaksanakan proses pembekalan tahap pertama untuk para pengurus Dewan Pastoral Paroki yang baru, disampaikan oleh Romo Paroki, tentang Petunjuk Pelaksanaan Perencanaan Program.

Memasuki bulan Nopember, program Dewan Pastoral Paroki untuk pembekalan dan pemantapan rencana program akan dilanjutkan dengan kegiatan Perumusan Program yang akan dilaksanakan di Sansui Hotel, Situbondo, 3-4 Nopember 2012 dengan mengundang pendamping proses Rm. J.C. Eko Atmono Pr dan Romo Paroki. Hasil dari rencana program yang disusun pada pertemuan itu akan disahkan pada waktu Rapat Pleno Pengurus Dewan Pastoral Paroki yang diagendakan Jumat, 16 Nopember 2012. Dewan Pastoral Paroki yang baru akan mulai melaksanakan program-programnya pada permulaan Desember, bertepatan dengan Minggu Adven I, permulaan kalender liturgi.   

Dalam bulan Nopember ini pula, paroki akan mengadakan Misa untuk Arwah, memanfaatkan waktu untuk pemberian Indulgensi bagi arwah umat beriman yang kita doakan, mulai tanggal 3-15 Nopember. Romo akan berkeliling ke Lingkungan dan Stasi secara bergilir untuk misa Indulgensi tersebut. Pada kesempatan ini setiap keluarga dapat menyampaikan intensi untuk sanak keluarga yang akan didoakan. Intensi disampaikan kepada ketua Lingkungan / Stasi masing-masing supaya dapat dibacakan sebelum perayaan misa dimulai.  

Dalam rangka persiapan menyambut Adven dan Natal, pada bulan Nopember Dewan Pastoral Paroki akan mulai membentuk panitia Natal. Panitia Natal bertugas menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendukung umat untuk mempersiapkan dan merayakan kelahiran Tuhan. Partisipasi umat diharapkan dapat membantu pelaksanaan program panitia ini, sehingga kita dapat menyambut penjelmaan Tuhan secara layak dan pantas dalam kebersamaan sebagai umat paroki.

Menindaklanjuti rencana untuk perbaikan Gua Maria di Paroki, dalam bulan Nopember ini akan mulai dilakukan renovasi. Umat yang ingin ikut berpartisipasi melancarkan renovasi ini dapat menghubungi Ketua Dewan Pastoral Paroki atau Romo Paroki. Patung Bunda Maria akan digeser ke tengah dan akan diusahakan sebuah sumur / saluran air untuk mendapatkan air suci dengan memanfaatkan sumber yang terletak dekat Gua Maria. Kehidupan devosi kita kepada Bunda Maria semoga semakin meningkat dengan usaha renovasi gua Maria ini. 

Berkah Dalem JAP.

Selasa, 25 September 2012

WARTA BULAN OKTOBER 2012


Bulan Kitab Suci Nasional pada bulan September cepat sekali berlalu. Tanpa terasa kita sekarang sudah memasuki bulan Oktober. Seperti tahun-tahun terdahulu, dalam bulan ini kita kembali mengarahkan perhatian kita pada Devosi Bunda Maria.

Dalam bulan Oktober ini Paroki menyelenggarakan doa rosario setiap hari di Gereja, untuk memberikan penghormatan kepada Bunda Maria. Umat dapat menyampaikan intensi-intensi dalam doa ini untuk berbagai keperluan. Umat dapat pula mengikuti renungan harian dari Buku Renungan yang diterbitkan oleh Panitia Tahun Budaya Keuskupan Malang.  Kita sambut Bunda Maria sebagai Bunda Penolong yang akan memberikan kepada kita bantuan-bantuan rohani agar kita makin teguh dalam beriman dan makin dekat dengan Yesus, Penyelamat dan penebus kita.

Dalam bulan ini pula, Dewan Pastoral Paroki yang baru dilantik akan melaksanakan konsolidasi pengurus Bidang Paguyuban, Pewartaan, Liturgi, Pelayanan dan Kesaksian. Konsolidasi dimaksudkan untuk menyatukan derap langkah pengurus baru dalam melayani umat. Kita berada dalam situasi pertarungan 3 poros besar yang berpengaruh, yakni poros Negara, Rakyat dan Pasar. Dominasi poros pasar dapat kita rasakan akibatnya dalam kehidupan bersama kita di paroki dan di tengah masyarakat. Kita didesak untuk menyikapinya dengan memajukan ketahanan hidup rohani, pendidikan iman dan kesehatan rohani umat agar tetap mampu menjadi cahaya di tengah dominasi poros pasar itu.

Ketahanan hidup rohani menyangkut pemenuhan kebutuhan umat akan Sabda dan Sakramen sebagai sumber iman. Pendidikan iman menyangkut upaya-upaya kita untuk mencerdaskan umat agar mampu bersikap kritis terhadap setiap perkembangan yang terjadi. Kesehatan rohani menyangkut upaya-upaya untuk menjamin agar iman yang dihayati umat berakar pada iman yang benar. Pelayanan yang kita kerjakan hendaknya menjadi pelayanan yang tanggap terhadap perkembangan hidup umat.

Terkait dengan persiapan Musyawarah Umat, dalam bulan ini juga, di paroki diselenggarakan pendalaman bahan untuk kegiatan tersebut. Selain perwakilan yang telah dipilih oleh Dewan Pastoral Paroki, kegiatan ini juga dapat diikuti oleh umat yang ingin menyumbangkan gagasan-gagasan untuk perkembangan Keuskupan dalam satu dasawarsa ke depan. Kita dapat mengambil bagian dalam karya Keuskupan dengan sumbangsih kita dalam proses pendalaman itu.  
*JAP *

Sabtu, 15 September 2012

Sabtu, 01 September 2012

WARTA BULAN SEPTEMBER 2012


BKSN 2012 : MENYAKSIKAN MUKJIZAT YESUS

Pada bulan September ini kita melaksanakan program Bulan Kitab Suci Nasional, disingkat BKSN. BKSN yang dilaksanakan setiap bulan September terhitung sudah berjalan hampir 35 tahun. Melalui program ini kita dibantu untuk semakin mengenal Kitab Suci dan hidup dari kekayaan pesan-pesannya.

Tema yang dibicarakan pada tahun ini : Menyaksikan Mukjizat Yesus.  Kita diajak untuk mendalami kisah-kisah Mujizat Yesus dalam Injil dengan harapan dapat makin mengimani kuasa ilahi Yesus yang tetap berkarya di tengah kita sampai saat ini. MukjizatNya nyata dan kita dipanggil untuk mengimaninya.

Pendalaman iman di Lingkungan, stasi dan berbagai kelompok kategori di paroki akan dilaksanakan dalam empat pertemuan. Kita akan mendalami empat golongan kisah Mukjizat Yesus, masing-masing mewakili setiap Injil :

Minggu I    Mukjizat Penyembuhan                    Mat, 9:1-8
Minggu II   Mukjizat Pengusiran roh jahat         Mrk, 5:1-20
Minggu III  Mujizat Menghidupkan Orang Mati   Luk, 7:11-17
Minggu IV  Mukjizat Alam                                 Yoh, 2:1-11

Pendalaman Iman menggunakan sebuah metode yang disebut Lectio Divina. Kita membaca Sabda Tuhan dalam suasana dialog dengan Yesus sendiri, dalam 5 langkah : Lectio, Meditatio, Oratio, Contemplatio dan Actio. Untuk mendukung keterlibatan dalam proses pendalaman dianjurkan supaya umat membawa kertas dan alat tulis. Diperlukan untuk mencatat hasil permenungan maupun doa yang akan kita sharingkan. Dalam proses pendalaman, kita melibatkan diri dengan mengikutsertakan diri kita di jaman ini dalam peristiwa Yesus.

Pada pertemuan pertama kita beranjak dari pertanyaan dua pertanyaan: Bagaimana mukjizat Yesus terjadi bilamana aku lumpuh ? Bagaimana temanku yang lumpuh dapat mengalami mukjizat Yesus ? Aku peduli kepada yang lumpuh dan mau menyelamatkannya. Lumpuh kita perluas maknanya tidak hanya dalam arti sakit, tetapi juga ketika kita merasa tak berdaya karena sebab lain. Pada pertemuan kedua, titik tolaknya dari persoalan kita yang seringkali dicekam dan dikuasai oleh kuasa jahat. Dalam cakupan luas kuasa jahat dapat diberi makna tidak hanya energi buruk dari luar yang merasuki kita, tetapi juga nafsu-nafsu akan kenikmatan, kebendaan atau konsumerisme yang mencekam dan membelenggu kita. Pertemuan ketiga lebih menarik lagi. Kita bertolak dari pengalaman sehari-hari ketika kita merasa kehilangan segala-galanya yang dapat menjadi sandaran hidup kita. Tidak jarang kita merasa semuanya berakhir dan habis ketika menghadapi masalah yang berat. Kita tidak boleh putus asa, karena kita tidak akan pernah kehilangan Yesus. Dia selalu ada bersama kita dan mudah tergerak hati oleh belas kasih untuk memulihkan keadaan kita. Pertemuan terakhir membicarakan mukjizat alam dengan kutipan kisah Yesus mengubah air menjadi anggur. Bahan ini tentu menarik karena sering dikutip sebagai bacaan dalam liturgy perkawinan. Yesus akan mengubah yang biasa menjadi yang terbaik. Tidak harus luar biasa dan spektakuler. Jadilah air yang siap diubah menjadi anggur terbaik.
Selain program BKSN, pada bulan September ini kita juga melaksanakan kegiatan persiapan untuk Sakramen Krisma, Pengukuhan Pengurus Dewan Pastoral Paroki Periode 2012-2015 dan pelantikan Asisten imam. Upacara penerimaan Sakramen Krisma, pengukuhan dan pelantikan dijadwalkan Sabtu, 29 September 2012.  Bagi para calon Krisma, kita dapat membantu persiapan mereka dengan doa : Mohon Karunia Roh Kudus ( PS 93 ). Bagi Pengurus DPP dan para Asisten imam kita dapat membantu dengan doa dan mengusulkan program-program yang penting diperhatikan di paroki kita.

Keuskupan Malang mulai bulan Agustus yang lalu sudah menggulirkan persiapan Program Musyawarah Umat yang akan dilaksanakan pada akhir Nopember 2012. Rapat Kerja Para Pastor Paroki yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 Agustus 2012 di Rumah Retret Syalom, Batu mulai membicarakan draft pertama dari Kertas Kerja Musyawarah Umat itu. Kita di paroki mendapat tugas untuk melanjutkan pembahasan Kertas Kerja Musyawarah umat tersebut. Selain akan dibentuk panitia kecil di Paroki untuk menyelenggarakan proses pendalaman itu, umat juga dapat berperan serta dengan doa khusus untuk persiapan Musyawarah Umat Keuskupan Malang dan menyampaikan gagasan-gagasan untuk memperkaya muatan dalam musyawarah nanti. Gagasan-gagasan yang muncul dapat disharingkan kepada Romo, Pengurus DPP atau pengurus Lingkungan / Stasi.

Mengingat seluruh dinamika itu, September ini kiranya menjadi September penuh rahmat. Amin.

JAP.

Minggu, 10 Juni 2012

WARTA BULAN JUNI 2012


Setelah kita melewati Bulan Devosi Maria pada bulan Mei yang lalu, dalam bulan Juni kita memasuki fokus yang baru dalam perjalanan rohani kita. Pertama, kita menghantar anak-anak untuk menerima komuni pertama. Kedua, kita mengisi liburan sekolah anak-anak dan OMK Paroki. Ketiga, kita mulai berproses untuk pembangunan ruang Adorasi dan renovasi pastoran.

Komuni Pertama bukan hanya perayaan Liturgis, tetapi sekaligus perayaan paguyuban. Dalam peristiwa ini selain kita hantar untuk menyambut komuni kudus untuk pertama kali, anak-anak juga kita hantar untuk memasuki jenjang atau kategori Remaja Katolik Paroki. Kita sambut kehadiran mereka dan kita pikul tugas untuk menyertai perjalanan mereka selanjutnya sebagai paguyuban Remaka.

Pelayanan bagi Remaja Katolik Paroki tidak mudah. Kita belum mampu menyediakan pendamping dalam jumlah yang cukup. Kreativitas kita untuk mendampingi mereka juga masih terbatas. Kita harus berbenah banyak. Pendahuluan untuk persiapan komuni pertama merupakan modal yang besar untuk kita lanjutkan dalam proses bina lanjut kelompok ini. Pembekalan-pembekalan yang diadakan oleh Keuskupan untuk para pembina perlu kita manfaatkan dengan sungguh-sungguh. Sarana-sarana yang ada yang sudah kita miliki perlu dimanfaatkan secara maksimal. Kita taruh harapan yang besar anak-anak kita ini menjadi tonggak yang kokoh untuk Gereja.

Pendampingan Remaja dan OMK selama liburan sekolah termasuk salah satu bentuk untuk mewujudkan harapan itu. Dalam kegiatan bersama selama liburan sekolah, kita menyertai mereka tidak hanya untuk melepas kejenuhan, tetapi juga berlatih membangun hidup persekutuan dan membangkitkan potensi-potensi kreativitas mereka. Satu semangat yang hendak ditanamkan dalam batin anak-anak melalui kegiatan ini ialah semangat sebagai Anak Terang. Anak Terang menawarkan cara pandang positif terhadap diri sendiri dan segala potensinya. Kita boleh berharap ketika anak-anak mampu menilai diri secara positif maka mereka pun mampu untuk menaruh rasa hormat dan kepedulian kepada sesama dan lingkungan sekeliling mereka.

Proses pembangunan rumah adorasi dan renovasi pastoran tidak lepas dari wacana pendampingan bagi anak-anak dan OMK paroki kita. Dengan tersedianya rumah adorasi dan ruang katekese, kita berharap dapat terwujud proses bina yang utuh bagi anak-anak kita. Selain soal pemahaman akan misteri iman, mereka juga mendapatkan ruang untuk mengungkapkan pengalaman imannya dalam tindakan-tindakan yang konkret, baik secara pribadi maupun bersama. Kita dukung upaya panitia yang mulai berproses pada bulan Juni ini sampai nanti mereka dapat menyelesaikan seluruh program yang direncanakan. 

Sabtu, 14 April 2012

WARTA PASKAH I

PASKAH PERAYAAN KEBANGKITAN TUHAN

Paskah kita sambut sebagai perayaan Kebangkitan Tuhan. Pada malam tirakatan menjelang kebangkitan Tuhan, kita merayakan peristiwa itu dalam berbagai ungkapan misteri iman :  Kristus Terang Dunia, Kristus puncak dari karya agung Allah sepanjang jaman, Kristus sebagai pusat Perjanjian yang baru. Kita rayakan peristiwa itu tidak hanya sehari, tetapi selama 40 hari sampai Hari Raya Kenaikan Kristus ke Surga. Perayaan selama 40 hari itu kita isi dengan permenungan dari bahan-bahan yang selama masa Prapaskah sudah kita perdalam.

Pertama, kita membangun kebersamaan dalam hidup paguyuban kita. Pada saat kita membaharui janji baptis, kita nyatakan pula satu kesediaan untuk mengamalkan panggilan dan tanggungjawab kita untuk menyejahterakan masyarakat. Pengembangan hidup paguyuban termasuk pilihan pertama yang kita lakukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat itu. Paguyuban kita sebagai komunitas basis Gereja dan komunitas basis insani memberi pengaruh yang baik kepada lingkungan sekitar apabila tetap dalam semangat kebersamaan, kerukunan, persaudaraan dan kesediaan untuk membela yang lemah. Masa Paskah menjadi kesempatan bagi kita untuk mewujudkan cita-cita dan rencana itu, sehingga perutusan kita sebagai terang bagi dunia sungguh dapat terwujud dalam keseharian kita.

Kedua, kita membangun kepekaan hati terhadap lingkungan sekitar kita. Kepekaan hati adalah tanda kepedulian dan sikap berpihak kita dengan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Kepekaan hati juga menjadi awal untuk lahirnya tindakan-tindakan positif yang dapat kita lakukan untuk memberi solusi terhadap persoalan masyarakat. Mungkin tindakan yang kita lakukan bukan tindakan yang besar dan spektakuler, namun dengan bertindak berarti kita sudah memulai sesuatu yang dapat memberi pengaruh baik. Mulailah melatih kepekaan hati ini dalam keluarga, karena keluarga menjadi basis untuk lingkungan yang lebih besar.

Ketiga, kita membangun semangat murah hati dalam berbagi. Kita meyakini bahwa semua milik yang ada pada kita adalah berkat tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama kita. Kita juga meyakini bahwa Allah berkehendak jangan seorang pun hidup dalam kekurangan. Atas dua alasan ini kita mengisi masa Paskah dengan amal kasih dan berbagi. Ketika kita hidup dalam semangat berbagi, maka kita akan mengalami bahwa sikap murah hati tidak akan pernah membuat kita kekurangan, tetapi sebaliknya sikap murah hati itu akan makin memperkayan hidup batin kita. Berbagi harus kita wartakan sebagai sikap bersama dalam masyarakat kita, sehingga masing-masing dapat menghayati pula keyakinan bahwa setiap milik adalah berkat Allah untuk kesejahteraan semua dan tiada seorang pun dikehendaki Allah hidup dalam kekurangan.

Keempat, kita tiupkan suara kenabian di tengah masyarakat yang makin individualis dengan menyerukan sistem tanggungjawab bersama. Gotong royong, koperasi, jejaring sosial, dll. berupakan bentuk-bentuk yang telah terbukti mampu menyejahterakan masyarakat dengan sistem tanggungjawab bersama. Hal yang berat dipikul bersama dan yang ringgan dijinjing bersama. Kita tidak menjadi kolot dan kuno kalau terus berbicara tentang sistem tanggungjawab bersama, meskipun kemajuan-kemajuan yang terjadi seringkali lebih mengutamakan kompentensi dan profesionalisme. Tanggung jawab bersama menyadarkan kita akan hakekat sebagai makhluk ciptaan dengan karakter religius, personal dan sosial. Masa Paskah menjadi kesempatan untuk mengamalkan panggilan dan tugas ini dengan semangat terang dunia. 

Dalam Masa Paskah, kita dapat menambahkan dasar-dasar Sabda Allah untuk mewujudkan keempat pilihan itu, dengan acuan pada bacaan-bacaan yang diwartakan dalam Liturgi Masa Paskah.

Bacaan-bacaan yang kita temukan dalam Liturgi menyampaikan kepada kita kesaksian dari para rasul tentang peristiwa kebangkitan Yesus. Bukan sekedar soal kubur kosong dan penampakan Yesus, tetapi juga sebuah perubahan dalam memandang identitas diri mereka dan dalam menghayati hidup. Para murid menemukan kesadaran baru, kini mereka menjadi utusan untuk melanjutkan karya Kristus melalui hidup paguyuban, liturgi, pewartaan, pelayanan dan kesaksian. Demikian pula masa Paskah ini menjadi kesempatan kita untuk makin sadar akan perutusan itu dan mengamalkannya dengan fokus pada 4 pilihan itu. 


-jap- 

Sabtu, 31 Maret 2012

MISTERI IMAN YANG KITA RAYAKAN DALAM PEKAN SUCI

Pekan suci kita sambut sebagai pekan istimewa. Selama pekan ini kita rayakan misteri-misteri pokok iman kita yang terpusat pada peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Kita diundang tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa-peristiwa Yesus, tetapi juga menanggapi peristiwa itu dengan cara baru untuk menjadikannya sebagai terang, sumber dan puncak iman kita. 

Sambutan meriah Raja Agung yang masuk Yerusalem pada perarakan Minggu Palma menawarkan permenungan tentang harapan kita akan Yesus sebagai pemimpin kita. Dia bukan hanya raja di dunia, tetapi juga raja kita sampai kekal. KepadaNya kita berserah dan mendambakan damai sejahtera. Namun kita menyadari, Dia akan menjadi Raja Agung yang kekal karena kasih bukan karena kekuasaan dengan tangan besi. Bahkan Dia menjadi Raja Kekal karena ketaatanNya kepada rencana Bapa, sehingga kemuliaanNya diperoleh bukan dari kekuatan bala tentara dan harta dunia, tetapi dari pengorbanan di kayu salib. Ia merendahkan diri sebagai hamba dari semua hamba. Kristus adalah Raja Agung yang berbela rasa dengan kita yang lemah dan penuh dosa. 

Perjamuan Malam sebelum sengsaraNya mengingatkan kita akan satu bentuk ungkapan kasih. Dalam perjamuan itu Dia membagikan hidupNya untuk kita.  Kasih itu berbagi dan melayani. Tiga misteri iman yang kita rayakan malam ini semuanya berbicara tentang kasih dengan pengorbanan tulus, yaitu misteri Ekaristi, misteri imamat dan misteri perutusan untuk melayani. Kita diundang memandang kekayaan hidup iman kita dalam melayani, mulai dari sumber dan berbagai bentuk ungkapannya. Intinya ialah bahwa seluruh kemuliaan dan damai sejahtera dapat dicapai jika ada kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih, seperti roti dan anggur yang dibagi-bagikan. 

Misteri Salib Tuhan yang kita rayakan pada hari Jumat Agung merupakan misteri iman yang pokok. Dalam salib ini Yesus menyatakan ketaatanNya kepada rencana Bapa dan pilihanNya untuk membela kita yang penuh dosa ini. Kita diundang untuk menilik kembali hidup kita. Betapa sering kita menolak salib dan berkeluh kesah ketika harus melewati penderitaan dan kesulitan. Kita selalu berpikir untuk mencapai sukses dengan jalan pintas dan menghindari jalan salib. Yesus menjadi sumber keyakinan kita, jalan salib membawa kita mencapai damai sejahtera. 

Misteri kebangkitan sudah kita rayakan sejak kita merenungkan sengsara dan wafat Yesus, karena misteri kebangkitan dan wafat ini sesungguhnya satu misteri saja. Dalam kebangkitan terkandung sengsara dan wafat Yesus. Kebangkitan menegaskan kemuliaan rencana Bapa untuk menyelamatkan manusia. Kebangkitan memancarkan harapan bagi semua yang mengalami derita dan kesengsaraan. Kebangkitan membaharui semua yang sudah hancur dan remuk redam. Kebangkitan menawarkan jalan terang dan hidup baru. Pembaharuan janji iman hendaknya tidak berhenti pada ucapan, tetapi terus kita kembangkan dalam perbuatan dan kebersamaan hidup paguyuban kita. 

---JAP---

Selasa, 27 Maret 2012

Agenda Kegiatan Panitia Paskah 2012

  1. Rapat Pembentukan Panitia Paskah 2012 : Kamis, 9 Februari
  2. Pengumpulan daun palma lama ke sekretariat paroki : 11- 19 Februari
  3. RABU ABU
    • Selasa, 21 Feb pk. 18.00
    • Rabu, 22 Feb - pk. 05.30
  4. Distribusi Amplop dan Celengan APP : 25 Feb – 4 Maret
  5. Ibadat Jalan Salib + Misa  : tiap Jumat 24 Feb - 30 Maret - pk. 17.00
  6. ADORASI 40 Jam
    • 24 Feb - 30 Maret Senin, Kamis, Jumat (16 @ 2,5 jam) pk. 18.30 – 21.00
  7. Pendalaman Iman
    • Lingkungan / Wilayah : tiap Selasa 28 Feb - 20 Maret
    • Stasi : tiap Kamis 1 – 22 Maret
  8. Rekoleksi Umat : 27 Maret di Gereja pk. 17.00
  9. Penerimaan Sakramen Tobat (Rekonsiliasi) : 28 - 31 Maret pk. 07.00
  10. MINGGU PALMA : Minggu, 1 April - pk. 07.00 Perarakan  start dari halaman SMPK
  11. KAMIS PUTIH dilanjutkan  Tuguran : Kamis, 5 April pk. 19.00 – 24.00
  12. JALAN SALIB :  Jumat, 6 April 2012 pk. 07.00
  13. JUMAT AGUNG :  Jumat, 6 April 2012 pk. 15.00 (kolekte untuk Tahta Suci)
  14. PASKAH MALAM  dilanjutlan Ramah Tamah : Sabtu, 7 April 2012 - pk. 19.00
  15. Hari Raya PASKAH : Minggu, 8 April 2012 pk. 07.00 (dilanjutkan Ramah Tamah dan Lomba-lomba Minggu Gembira)
  16. Batas Akhir pengumpulan Amplop dan Celengan APP 2012 : Minggu, 8 April
  17. Persiapan Komuni Pertama : 9 Apr – 3 Juni
  18. Penghitungan Amplop dan Celengan APP 2012 : Minggu, 15 April 2012 pk. 08.30
  19. Aksi Panggilan Dekenat : April/Mei
  20. Aksi Sosial : April/Mei; ke beberapa sekolah SD di Kab. Bondowoso
  21. Hari Raya Kenaikan Tuhan : Kamis, 17 Mei 2012 - pk. 18.00
  22. Hari Raya PENTAKOSTA
    • Sabtu, 26 Mei 2012 - pk. 17.00
    • Minggu, 27 Mei 2012 - pk. 07.00
  23. Hari Raya  TRI TUNGGAL MAHA KUDUS
    • Sabtu, 2 Juni 2012 - pk. 17.00
    • Minggu, 3 Juni 2012 - pk. 07.00
  24. Hari Raya TUBUH DAN DARAH KRISTUS
    • Sabtu, 2 Juni 2012 - pk. 17.00 (ada Penerimaan Komuni Pertama)
    • Minggu, 10 Juni 2012 - pk. 07.00
  25. Rapat Pembubaran Panitia 2012 : Rabu, 27 Juni pk. 18.00

Sabtu, 24 Maret 2012

WARTA PRAPASKAH V

Memasuki Prapaskah V, kita memusatkan perhatian pada persiapan batin melalui penerimaan Sakramen Tobat. Seluruh upaya kita untuk membangun hidup paguyuban, memupuk kepekaan hati dan semangat berbagi serta upaya kita membina tanggungjawab bersama akan membawa buah melimpah jika disertai kesediaan kita untuk membaharui diri. Melalui penerimaan Sakramen Tobat kita menyatakan kesediaan kita untuk pembaharuan hidup.

Sakramen Tobat kita hayati pertama-tama sebagai rahmat kerahiman Allah. Sakramen Tobat merupakan tuntunan dari Roh Kudus untuk membawa kita kembali kepada persatuan mesra dengan Allah. Ia membisikan ajakan kepada hati kita dengan berbagai cara agar kita berpaling kembali untuk menjadikan Allah sebagai segala-galanya dalam segala sesuatu dalam hidup kita.

Sakramen Tobat selanjutnya kita hayati pula sebagai buah dari doa-doa Gereja, yang mendambakan agar seluruh umat senantiasa hidup ktdus dan layak di hadapan Allah. Fereja sebagai kesatuan seluruh umat beriman tak henti memohon kepada Allah rahmat pengampunan karena percaya Allah maha rahim dan murah hati untuk mengampuni. Gereja yang sadar sebagai pendosa adalah Gereja yang mampu memandang kerahiman Allah itu sebagai sumber kekuatan untuk memulai hidup yang baru.

Sakramen tobat pada tempat yang ketiga kita hayati sebagai upaya kita untuk menata kembali hidup kita yang carut marut karena berbagai kelalalaian, kelemahan dan dosa. Berbagai kelalaian dan kelemahan menyebabkan suara hati kita tumpul atau kurang peka terhadap bisikan Allah. Dosa sebagai keputusan sengaja melawan hati nurani memisahkan kita Allah, Gereja dan sesama serta lingkungan sekitar kita. Penataan kembali hidup kita melalui Sakramen Tobat berarti pemulihan kembali kepekaan hati dan relasi kita yang telah terputus itu. Kita dapat berusaha untuk pemulihan itu dengan berpikir secara positif dan melakukan hal-hal baik kendati sangat sederhana. Pemulihan tidak hanya menghindar dari yang salah, tetapi lebih baik jika dimaknai berusaha melakukan yang baik. Keterarahan kepada hal yang positif akan membina sikap hati untuk terarah pada Allah.

Godaan kita untuk enggan menyambut Sakramen Tobat selalu akan timbul setiap saat dalam berbagai bentuk. Kita dicobai untuk tidak merasa punya salah apapun. Kita dicobai untuk merasa malu kepada Romo yang melayani sakramen itu karena kita kenal beliau. Kita merasa tak enak dianggap orang sok suci, dll. Kalau tetap kalah dengan godaan semacam itu, berarti kita belum sungguh percaya Allah maha pengampun. Juga belum sadar benar bahwa kita selalu dinanti olehNya untuk hidup dalam damai sejahtera bersamaNya. Tiga hal patut kita pupuk dalam diri kita masing-masing : Terus berusaha untuk memahami bahwa Allah sungguh murah hati untuk mengampuni, terus berusaha untuk membangkitkan kerinduan dan keinginan hati bersatu mesra dengan Dia dan membina hidup kita senantiasa layak di hadapanNya. Menyambut Sakramen Tobat adalah menyambut uluran kasih Allah yang memberi damai sejahtera lahir batin. Sambutlah sakramen ini dengan gembira.

-JAP-



        Minggu, 18 Maret 2012

        WARTA PRAPASKAH IV

        Pokok permenungan kita yang keempat dalam masa Prapaskah ini berbicara tentang tanggungjawab bersama sebagai sistem kerjasama dalam menyejah terakan masyarakat. Kita membicarakan topik ini dengan latar belakang kesadaran bahwa kurangnya kesejahteraan masyarakat pun terjadi secara sistematis, sehingga dalam menyikapinya kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, tetapi perlu kesadaran akan tanggungjawab bersama.


        Proses sistematis yang menghancurkan dalam masyarakat kita dapat kita telusuri misalnya dalam konteks kerusakan lingkungan dan kehancuran moral-etika dalam tata pergaulan dewasa ini. Dibalik semua proses tersebut terdapat kekuatan pasar atau uang yang menggerakkan masyarakat melalui tangan-tangan tersembunyi, sehingga rusaknya lingkungan hidup dan tata pergaulan tidak cepat disadari sebagai bencana karena banyak keuntungan diperoleh.

        Kita dapat belajar dari Yesus dalam Luk 6 : 12-19 dalam mengembangkan tanggung jawab bersama sebagai sistem kerjasama kita. Dalam teks ini diceritakan peristiwa Yesus memilih duabelas murid. Ia lebih dahulu datang kepada Bapa dalam doa dengan naik ke puncak bukit. Sesudah itu Ia turun untuk menyapa para murid dan memilih duabelas orang diantara mereka menjadi rasul, lalu bersama para rasul turun lagi untuk melayani orang banyak di tempat yang datar. Yesus lebih dahulu membicarakan semua rencanaNya dengan Bapa dalam doa. Sesudah itu Ia mendidik dan membangun komunitas para murid. Dengan bekal yang telah diberikan, Ia kemudian melatih para murid untuk melayani orang banyak dalam kebersamaan. Inilah sebuah metode dan sistem yang digunakan oleh Yesus sehingga ketika tidak bersama Dia, para murid dapat berkarya seperti Dia. Yesus telah memulai dalam karyaNya membangun tanggungjawab bersama sebagai sebuah cara kerjasama dalam pelayanan.

        Kita mengenal dan memiliki banyak bentuk kerjasama yang sudah dipraktek kan dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong dan koperasi. Dewasa ini juga banyak bentuk-bentuk yang bernaung dibawah bendera pemberdayaan berusaha membangun kembali sistem tanggungjawab bersama itu untuk menegakkan kesejahteraan masyarakat. Satu hal pertama yang sepertinya perlu kita lakukan adalah bertanya kembali tentang pemaknaan gotong royong dan koperasi itu dalam situasi aktual dewasa ini. Jangan-jangan kita pun termasuk orang yang tidak lagi menghargai gotong royong dan koperasi, karena kecenderungan untuk mendapatkan banyak keuntungan pribadi. Hal kedua menyangkut tindakan nyata yang dapat kita lakukan sehingga bentuk-bentuk tanggungjawab bersama seperti itu tidak luntur dari masyarakat kita, tetapi makin mengemuka dan mampu menjadi cara aktual untuk menyejahterakan masyarakat. Sistem yang merusak kesejahteraan telah berkembang menjadi semacam gurita yang tidak mungkin dihadapi dengan kesalehan pribadi, tetapi perlu kesadaran dan tindakan bersama karena rasa tanggungjawab bersama.

        -JAP-

        Minggu, 11 Maret 2012

        WARTA PRAPASKAH III

        Peka Hati Untuk Terlibat
        Permenungan kita pada Minggu Prapaskah III terkait dengan Gerakan Peduli dan Keterlibatan Aktif. Tema ini langsung mengingatkan kita dengan kecenderungan-kecenderungan umum yang sering kita jumpai dalam hidup kita : apatis, cuek, cari aman sendiri, gak mau direpotkan dengan urusan rumit-rumit. Kita memilih untuk peka hati dan mau terlibat dengan segala resiko yang harus kita pikul. Kitab Suci menegaskan satu sikap selama masa Prapaskah ini : menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Peka hati dan keterlibatan aktif adalah bagian dari semangat penyangkalan diri dan memikul salib.
        Namun kita juga dapat menemukan dalam hidup Yesus satu dasar yang meneguhkan mengapa kita harus peka hati dan mau terlibat aktif. Pada permulaan karyaNya, ketika Yesus berada di Nazareth, Ia membuka nas Kitab Suci dan membacaNya : Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang ( Luk 4: 18-19 ). 
        Yesus menemukan sebuah pilihan dasar, bukan sekedar reaksi terhadap keadaan sekitar, bahwa Ia telah dipenuhi oleh Roh Allah untuk mengemban tugas dan tanggungjawab mewartakan kabar baik bagi yang miskin, pembebasan bagi yang tertindas dan memberitakan bahwa Tahun Rahmat Tuhan sudah datang. Kepekaan hati dan kesediaanNya untuk terlibat dalam pewartaan dan pembebasan itu karena dorongan Roh yang ada dalam diriNya. Inilah kekuatan dahsyat yang menyebabkan Yesus peka hati dan mau terlibat dengan kesulitan dan resiko. Inilah pula yang menjadi landasan kita untuk membangun gerakan peka hati dan aktif terlibat di masa kini.
        Paroki kita telah mencoba selama ini, mengembangkan jejaring sosial melalui SMS yang bisa menjangkau setiap media komunikasi umat : FB, HP, BB, telephone. Satu hal yang diharapkan dari usaha ini adalah tersebarnya informasi yang penting untuk umat secara cepat dan menjangkau semua. Bagaimana Anda memaknai hal ini sebagai dorongan untuk lebih peka hati dan terlibat aktif ? Cara apa lagi yang dapat kita pergunakan untuk memajukan gerakan peka hati dan keterlibatan aktif umat kita dalam membangun kebersamaan ?
        -JAP-

        Sabtu, 03 Maret 2012

        WARTA PRAPASKAH II


        Gerakan Rela Berbagi
        Tema kedua yang menjadi bahan permenungan dalam Penjabaran tema Panggilan dan Tanggungjawab menyejahterakan masyarakat ialah Gerakan Rela Berbagi. Sekali lagi, kita berbicara tentang Gerakan, yang berarti tindakan-tindakan nyata berbagi dengan sesama. Tidak sekedar dalam arti berderma dan berbelas kasih, tetapi membangun gerakan bersama dalam masyakat untuk rela berbagi dengan yang memerlukan.
        Berbagi dalam arti berderma sudah sering kita lakukan. Kita tergerak hati oleh belas kasihan terhadap orang yang menderita dan memerlukan pertolongan. Namun secara umum kecenderungan masyarakat kita ialah mementingkan kelompok sendiri atau mengutamakan yang dikenal dan dapat memberi kontribusi balik. Kita sering menyaksikan peristiwa berbagi yang sarat muatan untuk publikasi. Bukan berbaginya yang penting, tetapi publikasinya. Kita juga menyaksikan banyak orang kapok berbagi karena merasa diperdaya atau tertipu. Kebaikannya dimanfaatkan untuk tujuan mencari keuntungan. Akibatnya, berbagi seringkali dirasakan sebagai kehilangan sesuatu, dan bukan melipatgandakan sesuatu.
        Prinsip dasar yang kita gunakan untuk landasan kita dalam berbagi adalah keyakinan yang diteladankan oleh Yesus sendiri. Kita dapat belajar dari peristiwa Lima Roti dan Dua Ikan dalam Mrk 6: 35-44.
        Ada dua kemungkinan yang dapat kita bayangkan atas peristiwa dalam Mrk 6 : 35-44. Kemungkinan pertama, Yesus menyuruh orang banyak itu untuk membuka bekal mereka dan membagikan bekal untuk teman-teman lain yang tidak membawa makanan. Kemungkinan kedua, melihat Yesus dan para murid membagi-bagikan makanan, maka mereka yang membawa bekal pun dari kehendak sendiri membagi-bagikan juga untuk beberapa orang yang dekat dengan mereka. Hal yang mengherankan dalam peristiwa ini ialah, bahwa tiba-tiba timbul gerakan serentak orang mau berbagi dengan sesamanya. Inilah mukjijatnya. Semua tersadar bahwa ternyata bekal mereka lebih dari cukup untuk dibagikan kepada orang lain. Semua tersadar kalau sesuatu itu dibagikan, bukannya berkurang dan habis, tetapi malahan menjadi berlipat ganda. Ini semua terjadi karena keyakinan dari Yesus, yakni jangan sampai seorang pun berkekurangan dan jangan sampai orang terikat dengan milik atau hartanya.
        Gerakan berbagi dapat kita sharingkan sebagai gerakan bersama dalam masyarakat dengan semangat dasar tak seorang pun jangan hidup dalam kekuarangan dan janganlah orang terikat dengan miliknya. Persoalan kita sekarang, kita berbagi dalam hal yang bersifat material saja atau juga berbagi dalam hal-hal yang bersifat rohani spiritual ? Bagaimana kita memaknai Gotong Royong yang mulai luntur dalam masyarakat kita sebagai sebuah Gerakan Berbagi ? Bagaimana kita memaknai gerakan Koperasi / CU juga sebagai gerakan berbagi ? Kita sudah punya tradisi berbagi dalam bentuk gotong royong dan gerakan koperasi itu. Kini saatnya kita menghidupkan kembali sebagai perwujudan semangat Prapaskah kita.
        By JAP

            Sabtu, 25 Februari 2012

            WARTA PRAPASKAH I


            Mengokohkan Paguyuban
            Masa Prapaskah merupakan kesempatan untuk menjalani Retret Agung. Kita mengkhususkan waktu selama 40 hari untuk lebih meningkatkan hidup doa, pendalaman iman dan matiraga, dengan harapan kita menjadi lebih siap menyambut hari Kemenangan Salib, pada perayaan Paskah. Waktu 40 hari mengingatkan kita peristiwa ketika Yesus berada dipadanggurun sebelum memulai karyaNya di depan umum. Angka 40 itu juga mengingatkan kita perjalananIsraelmelintasipadanggurun menuju tanah Terjanji. Demikianlah selama 40 hari kita mengaktualisasikan kembali pengalaman rohani Yesus dan bangsaIsraeldalam perjalanannya menuju Kanaan.
            Pendalaman tema APP Minggu Pertama Prapaskah berbicara tentang Gerakan Mengokohkan Hidup Paguyuban. Tema ini merupakan penjabaran pertama dari tema besar APP 2012 : Panggilan dan Tanggungjawab mewujudkan kesejahteraan umum.
            Gerakan memperkokoh hidup paguyuban kita pilih tidak sekedar reaksi terhadap situasi aktual masyarakat kita yang terkotak-kotak, yang sering mudah bersengketa dan saling curiga. Gerakan ini kita pilih sebagai perwujudan panggilan dan tanggungjawab kita untuk menyejahterakan masyarakat karena alasan dasar dari teladan hidup Yesus sendiri. Kita dipanggil untuk meyakini, Yesus telah memberi landasan yang kokoh bagi hidup paguyuban kita yang dapat disharingkan untuk kerukunan hidup dalam masyarakat luas.
            Satu hal yang mendasar untuk hidup paguyuban kita ialah bahwa Yesus senantiasa hadir di tengah kita. Dalam Kitab Suci dikatakan : Jika ada dua atau tiga orang berhimpun dalam namaKu, Aku hadir di tengah-tengahmu.  Ia hadir sebagai gembala bagi kawanan, dan kepala bagi Tubuh.KiniIa tetap berada di tengah kita dengan kehadiran Roh Kudus.
            Kehadiran Yesus di tengah kita memberi satu identitas bahwa kita adalah terang dunia. “ Kamu adalah terang dunia. Hendaknya terangmu itu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga. “ ( Mat 5 : 14.16. ). Dengan ini mau dikatakan Yesus menyatakan paguyuban kita mampu menjadi kekuatan yang memberi pengaruh positif    kepada lingkungan sekitar kita.  Terang yang bercahaya itu memancarkan kebaikan dan menarik orang untuk memuliakan Allah. Tentu ini pengaruh yang relevan untuk jaman sekarang dimana yang kita temui justru pengaruh-pengaruh buruk karena kekerasan, materialisme, hedonisme, sektarianisme.
            Kehadiran Yesus juga memberi satu ciri khas istimewa untuk paguyuban kita, yakni hidup dalam solidaritas kasih yang tidak mengesampingkan siapapun. Semua dicintai karena kemanusiaannya. Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;  mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah untuk orang yang mencaci kamu ( Luk 6:27-28 ). Solidaritas kasih yang ditanamkan oleh Yesus menjangkau bahkan orang-orang yang memusuhi dan membenci. Ini berarti bahwa kita mengasihi terutama karena kemanusiaan bukan karena asal-usul, suku, status, agama, dll.
            Dengan dasar-dasar ini kita perkokoh kebersamaan kita sebagai paguyuban, baik sebagai umat Katolik maupun sebagai warga masyarakat. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mewujudkan semangat ini sebagai sebuah gerakan bersama ? Apakah yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam pendidikan anak-anak di rumah supaya mereka dapat memiliki dasar kokoh untuk mengasihi sesamanya ? Apakah yang dapat dilakukan umat Lingkungan / Stasi supaya dapat memberi pengaruh positif bagi kerukunan masyarakat di sekitarnya ? Apa yang dapat kita lakukan bersama sebagai paroki agar semangat kebersamaan ini dapat berpengaruh bagi warga sekitar kita ? Sepertinya kita harus melawan arus dan berjuang dengan susah payah. Namun kita tidak perlu putus asa dan kecil hati apabila belum melihat hasil, karena semua selalu dalam proses dan perjalanan kepada kesempurnaan dalam Allah.
            by JAP

            Rabu, 01 Februari 2012

            SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2012

            SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2 0 1 2
            K E U S K U P A N M A L A N G
            “Panggilan Hidup dan Tanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan bersama” (Mat 25: 15-18; 20,22)
            Saudara-saudari
            Segenap Umat Beriman
            Para Imam, Biarawan dan biarawati
            di seluruh Wilayah Keuskupan Malang terkasih,
            Pengantar
            Saudara dan saudari yang terkasih, umat Katolik Keuskupan Malang yang sangat saya cintai. Sebentar lagi kita akan bersama-sama memasuki masa Prapaskah yang kita awali dengan liturgi Rabu Abu. Melalui misteri liturgi Rabu Abu ini kita semua diingatkan arti dan hakekat masa prapaskah sebagai “saat” retret umat. Saat dimana kita diingatkan kembali bahwa melalui gerakan puasa bersama ini kita diajak untuk setia menghadirkan Kerajaan Allah dalam gerakan doa, puasa dan pantang serta belas kasih melalui amal yang kita berikan. Melalui tema-tema yang dikembangkan oleh Panitia Gerakan APP Keuskupan Malang dalam suasana doa, pantang puasa dan amal tersebut kita diajak untuk mendalami kehendak Allah melalui tema-tema pendalaman yang sudah dipersiapkan.
            “Panggilan Hidup dan Tanggungjawab” yang diangkat oleh Panitia APP merupakan penjabaran dari tema besar yaitu: “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Panggilan hidup dan tanggungjawab yang kita angkat sebagai tema di tahun 2012 ini merupakan penjabaran dan gerakan dari semangat APP yaitu tanggungjawab Gereja untuk dengan setia menghadirkan Kerajaan Allah. Kita menyadari kehadiran Kerajaan Allah secara nyata ketika hidup sejahtera terwujud dan bukan hanya berhenti pada idealisme atau berhenti pada pemahaman spiritualitas sosial saja, melainkan harus diwujudkan dengan nyata. Pada hemat saya kita sebagai Gereja sungguh Gereja Kristus yang menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini sewaktu lewat hidupnya Gereja sanggup membela kehidupan demi menghadirkan kesejahteraan hidup bagi manusia. Itulah panggilan hidup dan tanggungjawab kita sebagai Gereja.
            Panggilan Hidup dan Tanggungjawab
            Panggilan hidup dan tanggungjawab untuk mewujudkan hidup sejahtera pertama-tama kita mulai dengan bagaimana kita mengupayakan suasana guyub membangun Gereja dan masyarakat. Kesejahteraan hidup menjadi semakin nyata kalau diantara umat manusia tidak terjadi perpecahan dan persaingan yang tidak sehat. Sektarianisme, budaya mengagungkan kelompoknya, kepentingan diri dan golongannya, tidak menghargai golongan lain, merupakan sikap yang jauh dari rasa guyup. Guyub tidak lain adalah suatu pengalaman hidup dimana kita menyadari sebagai saudara karena kita semua ciptaan Allah. Suku, agama dan golongan adalah kehendak Allah yang kodrati dan tidak bisa kita tolak melainkan kita letakkan sebagai kebersamaan dalam perbedaan. Untuk mencapai suasana tersebut sebagai umat Katolik pertama-tama menghayati suasana guyub dalam komunitas basis gerejani. Kuatnya rasa dan suasana guyub dalam kehidupan umat katolik pasti akan mempengaruhi suasana dan rasa guyub dalam kehidupan komunitas basis insani. Sebab Gereja ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sangat majemuk.
            Suasana dan rasa guyub yang merupakan wujud iman Gereja karena kita semua dipersatukan dalam Ekaristi hendaknya memberikan buah-buah yang nyata. Ekaristi sebagai sumber dan dasar paguyuban Gereja menjadi sebuah ekaristi yang hidup, kalau kita yang dipersatukan melalui Ekaristi tersebut rela berbagi. Cinta kasih Yesus yang terungkap dengan nyata dalam pemecahan dan pembagian Roti Hidup itulah yang menjadi dasar bahwa masing-masing dari kita yang dipersatukan denganNya mempunyai kewajiban untuk berbagi. Berbagi hendaknya merupakan buah-buah paguyuban yang dipersatukan dalam misteri Ekaristi.
            Pengalaman Hidup Saat Ini
            Saudara dan saudari yang terkasih, pengalaman kehidupan saat ini semakin mempertegas kita semua bahwa budaya berbagi bukan hal yang mudah kita lihat. Ada kecenderungan bahwa diantara kita menjadi orang-orang yang serakah dan begitu memikirkan diri sendiri. Padahal semakin nyata bahwa dihadapan kita banyak ditemukan pengalaman hidup yang sangat memprihatinkan dan jauh dari kehendak Allah sendiri, seperti kemiskinan, kehancuran lingkungan hidup, ketidakberdayaan buruh karena sistem kapitalis, dan masih banyak lagi yang lain. Pengalaman iman dan pemaknaan Ekaristi menjadi semakin hidup dan subur dalam pengalaman iman Gereja, kalau membentuk dan menggerakkan kita semua untuk menjadi pribadi yang peka dan terlibat serta berpartisipasi untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Kesadaran ini akan semakin bertumbuh, kalau kita kembali pada makna dasar dari Ekaristi itu sendiri yaitu kasih yang mau berkorban dengan tidak memikirkan diri sendiri atau golongannya. Melalui Ekaristi itulah kita diajak untuk berpartisipasi bersama Yesus dalam cinta kasihNya untuk membebaskan manusia dari keterpurukan dan dosa.
            Saudara dan saudari yang terkasih, kesadaran dan tanggungjawab penghadiran Kerajaan Allah di dunia dengan mengupayakan kesejahteraan hidup juga menuntut kehendak baik dan kerjasama manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya dan ciptaan lainnya. Kesadaran inilah yang semakin menguatkan pengalaman iman kita akan karya keselamatan; karya Kerajaan Allah sudah ada meski belum sempurna. Perjumpaan antara Rahmat Allah dengan usaha manusia itulah yang akan membuahkan karya keselamatan. Maka tidaklah berlebihan kalau kesejahteraan hidup manusia akan menjadi semakin jelas dan nyata ketika sebagai orang beriman kita merasa bertanggungjawab untuk mewujudkannya serta rela untuk saling kerjasama. Kerjasama yang tulus dan ikhlas diantara kita dan bersama kehendak Allah akan membuahkan tata keselamatan. Untuk mencapai budaya kerjasama dan bertanggungjawab tentu dibutuhkan semangat pertobatan dan kerendahan hati.
            Komitmen Gereja akan kesejahteraan Hidup
            Ditegaskan dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, Gereja sadar dirinya merupakan persekutuan murid-murid Yesus yang diutus mewartakan keadilan, kedamaian, dan kebebasan kepada sesama menurut cita-cita terciptanya keutuhan alam lingkungan hidup. Dasar perutusan itu ialah iman, Kepercayaan, dan pembabtisan. Kita menjadi ciptaan baru, dipenuhi dengan Roh Kudus. Anugerah kasih mendorong kita untuk mencari bentuk baru hubungan kita dengan Allah, keluarga Allah dan semua ciptaan. Bentuk baru hubungan yang dibangun diharapkan mendatangkan kesejahteraan hidup bagi semua orang yang bersahabat dengan lingkungan seluruh ciptaan.
            Dalam kenyataannya, hubungan antar manusia dengan sesamanya cenderung saling berebut kebenaran, kekuasaan dan harta kekayaan. Sedangkan dengan alam ciptaan, manusia menguras habis-habisan tanpa rasa sayang, bahkan tanpa memikirkan nasib anak cucu dan nasib generasi berikutnya. Manusia telah membunuh bumi ini makin lama-makin cepat. Pada gilirannya terjadilah bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin rebut, keracunan gas alam, dan sebagainya. Dampak yang lebih jauh, masyarakat miskin semakin tidak berdaya menghadapi situasi hidupnya, bahkan mereka kehilangan sanak-saudara dan harta miliknya yang sedikit.
            Penutup
            Kesadaran akan dampak perubahan iklim dan tantangan hubungan manusiawi, mendorong kita untuk membangun persahabatan dan persaudaraan. Persahabatan ini dapat kita ungkapkan melalui pembelajaran bersama, bagaimana hidup dan kehidupan yang berpangkal dalam budaya “Gotong Royong” mampu menggerakkan serta membangkitkan kesadaran kristiani demi kesejahteraan bersama. Berbagai upaya pengembangan yang kita renungkan dan kerjakan mengarahkan kita kepada kemajuan dan kesucian pribadi dalam kebersamaan dengan sesama di dalam kerangka kesejahteraan bersama.
            Masa Puasa atau Prapaskah sebagai masa rahmat istimewa dalam kehidupan kita sebagai umat beriman Katolik senantiasa menyadarkan kita akan perutusan untuk menjadikan kita murid-murid sejati dari Kristus. Kesadaran ini kiranya memacu kita untuk rela dan berani bekerjasama demi keseimbangan hidup yang terungkap dalam kesejahteraan bersama. Panggilan iman Kristiani ini mendorong kita untuk mengutamakan peran talenta kita demi kesejahteraan rohani dan jasmani bersama dalam tanggungjawab kita sebagai mitra kerja Allah kepada semua.
            Selamat memasuki masa Puasa prapaskah dengan hati terbuka.  Tuhan Memberkati
            Malang, Februari 2012
            Uskup Keuskupan Malang
            Msgr. Herman Joseph Pandoyoputro O. Carm